Selasa, 17 September 2013

Pendidikan ala Indonesia. Sudahkah yang Terbaik ?


“Setiap warga Negara Indonesia berhak menerima pendidikan”. Begitulah kurang lebih bunyi salah satu pasal UUD ’45 tentang pendidikan. Tak dapat disangkal, pendidikan memang sangatlah penting bagi setiap orang. Bahkan karena hampir semua orang sadar bahwa pendidikan penting sampai-sampai pemerintah membuat peraturan wajib belajar sembilan tahun untuk setiap anak-anak Indonesia. Alhasil, setiap anak-anak Indonesia bisa bersekolah dengan gratis setidaknya sampai jenjang SMP.

Bicara soal pendidikan tentu sangat erat kaitannya dengan sekolah dan berbagai mata pelajaran yang kita dapatkan di sekolah. Masih ingatkah Anda dengan berbagai mata pelajaran itu ? Ya, benar sekali. Matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Olah Raga, Seni, Agama dan lain-lain. Dan tentu Anda masih ingat juga bukan? Bahwa diantara semua mata pelajaran itu pastilah Matematika, Bahasa Indoenesia, IPA, dan IPS yang menempati urutan paling sering kita jumpai disetiap minggunya. Paling banyak jumlah pertemuannya. Sudah dapat dipastikan saya, Anda ataupun setiap anak-anak yang pernah merasakan pendidikan di bangku sekolah formal pastilah merasakan hal yang sama. Terlepas suka ataupun tidak. Kalaupun suka, biasanya anak-anak akan memahami ilmu dan materi yang diberikan oleh guru ketika akan ujian. Dan selepas ujian, hilanglah seketika ilmu-ilmu itu. Entah lenyap kemana. Ya, mungkin karena murid hanya merasa membutuhkan ilmu dan materi-materi tersebut sebatas untuk “makhluk” yang bernama ujian.

Mungkin tergolong baik bagi murid yang dapat menyesuaikan dengan sistem demikian. Untuk murid yang notabene merasa tidak suka dengan mata pelajaran “otak kiri”, hal ini mungkin akan menjadi “siksaan” bagi mereka. Sebut saja namanya Kiki. Dari semua mata pelajaran yang ada disekolahnya, dia selalu menantikan pelajaran seni, Meski hanya seminggu sekali, tetap saja dia senang bukan main jika sudah disuruh menggambar oleh gurunya. Jika ditanya cita-cita pun dia akan menjawab kalau dia ingin menjadi pelukis. Masa pembagian kelas pun datang, setiap murid dites kemampuannya untuk menentukan kategori kelas yang sesuai dengan mereka. IPA, IPS, atau Bahasa. Begitu pula dengan Kiki. Kiki tampak serius dengan kertas ujiannya. Ujian usai, saatnya Pak Guru mengumumkan kategori kelas bagi masing-masing siswa. Satu persatu teman Kiki dipanggil dan menempati kategori kelas sesuai dengan hasil ujiannya. Sampai tibalah raut wajah Pak Guru berubah seperti orang kebingungan. “Kiki!”, panggil Pak Guru. “Iya, Pak. Ada apa?”, raut wajah Kiki tetap seperti biasanya. Tenang dan datar. “Kenapa kamu tidak jawab satu soal pun di ujian ini?”. “Saya jawab kok, Pak. Itu dibelakangnya”, sambil menunjuk kertas ujian. “Jawaban apa ini, Ki?”, Pak Guru mulai kelihatan kesal. “Itu gambar saya, Pak. Tadi sebelum ujian bukankah Bapak bilang, “Kerjakan sesuai dengan kemampuan dan minat kalian”. Saya merasa gak mampu, untuk masuk kelas IPA, IPS, ataupun Bahasa. Saya merasa mampu dan minat masuk kelas seni. Makanya saya buat soalnya sendiri dibelakang kertas itu. Kira-kira begitu, Pak”, dengan tenangnya Kiki menjawab demikian.

Itu baru Kiki, masih banyak Kiki-Kiki lainnya di negri Indonesia ini. Yang dipaksa untuk menuruti sistem yang ada. Seolah-olah masa depan hanya milik penggemar mata pelajaran “otak kiri”. Itulah sekelumit kisah pendidikan di negri ini. Murid pintar di sekolah adalah murid yang bisa menyesuaikan dirinya dengan sistem sekolah. Murid yang dianggap bodoh disekolah adalah murid yang tidak dapat dengan baik menyesuaikan dirinya dengan sistem sekolah. Pada dasarnya tidak ada manusia bodoh, masing-masing punya keunggulan di bidangnya masing-masing. Hanya saja, terkadang sistem yang “memaksa” sehingga ada si Pintar dan si Bodoh. Kasihan sekali si Bodoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar